Tanah Rejang

Tanah Rejang.

Telah begitu banyak isak yang tumpah di atas pangkuanmu. Telah berulangkali pula segala harap tenggelam dikedalamanmu.

Haru yang senantiasa hambur menjadi satu, memang tidak semestinya membuatku rapuh. Kau bisa menyaksikannya sendiri bukan? Saat setiap kali dahi luruh ke atas permukaanmu, bersama jutaan air mata yang seperti tanpa henti menemani perjalanan hari. Hingga setelahnya, dalih mendapatkan energi baru mampu membuatku kembali berdiri. Di sini.

Tanah Rejang.

Biarlah hingga kesekian kali pun, kujatuhkan pada setiap jengkalmu saja. Segala bentuk cinta juga damba yang membuatku tetap menjadi hamba yang seutuhnya.

Mihrab Cinta

Aku bukan tak sabar, hanya tak ingin menanti.
Karena berani memutuskan adalah juga kesabaran.
Karena terkadang penantian, membuka pintu-pintu syaithan.
(Salim A. Fillah)

Matahari baru saja beranjak naik untuk menyinari bumi. Cahayanya masih malu-malu menunjukkan betapa rupa yang ia punya sangat menawan. Samar-samar cahaya matahari mulai menerangi sebuah ruangan berukuran 2×3 meter dengan kehangatannya yang masih bercampur dengan kesejukan udara sisa malam tadi. Di ruangan itu, seorang perempuan sedang berusaha khusyu’ menyambut waktu pagi dengan menunaikan beberapa rakaat shalat sunnah dhuha. Ia baru saja ingin menuntaskan rakaat pertamanya. Tapi seketika bibirnya bergetar. Ada isak tangis yang perlahan terdengar ketika lisannya mulai merapal Al Quran surat Asy Syams memasuki ayat kedelapan.

Fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha. Qad aflaha man zakkaaha. Wa qad khaaba man dassaaha…
(Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya…)

Sampai pada ayat itu, tangisnya semakin deras. Tubuhnya berguncang hebat. Ada sepotong hati yang bertanya-tanya, dirinya termasuk ke dalam golongan yang mana? Dan dengan terpaksa, ia berhenti sejenak menunaikan bacaan surat pendeknya. Hatinya beristighfar berulang kali. Setelah ia menenangkan dirinya sendiri, ia lanjutkan membaca surat asy syams hingga selesai.

Matahari sudah semakin meninggi ketika perempuan itu telah selesai dengan beberapa rakaat shalat sunnah dhuhanya sekaligus dengan dzikir dan doa-doa yang ia ucapkan dengan panjang-lebar. Namun angin masih saja berhembus sejuk menemani paginya kala itu. Mungkin Allah sengaja menghadirkan kesejukan padanya seakan Allah ingin mengatakan bahwa hatinya tidak boleh berlama-lama terbakar panasnya nafsu dunia.

Di atas sajadah yang telah menemaninya beribadah selama ini, perempuan itu terdiam. Shalat sunnahnya memang sudah selesai, namun ia masih belum beranjak dari atas sajadah. Sesekali air matanya jatuh perlahan. Ingatannya kembali menerawang pada kejadian yang ia alami selama dua bulan terakhir.

Dua bulan yang lalu, sebuah tawaran datang kepadanya. Tawaran untuk berproses dengan seorang laki-laki yang belum ia kenal betul dalam keseharian. Ia hanya mengenal nama. Tidak lebih dari itu. Perempuan itu harus mengakui, bahwa desakan menikah dari sana-sini sudah lebih dari sering menghampiri hidupnya. Namun ia juga memahami bahwa memutuskan untuk menikah bukan hanya sekedar perkara desakan saja. Maka ia beristikharah, meminta petunjuk dari Allah agar diberi keteguhan dalam melangkah ke arah kebaikan.

Semenjak itu pula hatinya mulai gelisah. Seumur hidup ia selalu bersikeras untuk menutup hatinya kepada lawan jenis. Ia tidak pernah memberikan kesempatan bagi siapapun untuk memasukinya. Maka ketika tawaran itu datang, mau-tidak-mau ia harus membuka pintu hatinya secara perlahan. Ia benar-benar gelisah dengan berbagai resiko yang harus dihadapi saat keterbukaan itu ia lakukan.

Dan ternyata ia harus lebih gelisah lagi ketika ada berbagai alasan yang menyebabkan ia tidak sengaja berinteraksi dengan laki-laki yang akan dijodohkan kepadanya. Sesekali syaraf dan ototnya terasa dingin semua saat pertemuan dan perbincangan mereka berlangsung sebentar. Lebih sering lagi, ia memilih untuk menghindar dengan cara yang tidak lucu sama sekali. Wajar saja hal ini terjadi. Sebelumnya memang perempuan itu tidak pernah menitipkan hatinya kepada lawan jenis hingga sedemikian dalam. Sungguh, ini baru terjadi sekali seumur hidupnya. Dan ia benar-benar gugup dengan perasaan merah jambu itu. Iya. Perempuan itu jatuh cinta. Hatinya sedang berbunga-bunga.

Namun sayang, kekeliruan pertama yang terjadi pada perempuan itu adalah saat memutuskan untuk jatuh cinta, bukan malah membangun cinta. Maka, ia pun harus menerima pahitnya penderitaan. Ia menderita ketika shalatnya tidak bisa khusyu’, ia menderita saat hapalan Al Qurannya mulai kacau dan sulit sekali bertambah tersebab pertemuan-pertemuan yang telah lalu itu kembali terulang di dalam pikirannya secara terus-menerus.

Semakin lama tenggelam dalam suasana yang seperti itu, ia mulai tidak nyaman. Ada kelezatan iman yang perlahan mulai pudar dalam kehidupannya sehari-hari. Ia mengakui bahwa intensitasnya dengan rutinitas ibadah memang bertambah. Ia sanggup bangun diwaktu sepertiga malam terakhir yang lebih diutamakan oleh Allah, ia semakin rajin bersedekah kepada fakir-miskin yang berdiam di lampu-lampu merah, ia pun menjadi rutin menjalankan puasa sunnah; hanya agar urusan perjodohannya dipermudah oleh Allah. Lucu, bukan? Ia tahu memang begitulah sunnatullahnya. Namun ditengah rutinitas ibadah itu ia justru kehilangan sesuatu, yang belakangan membuat ia sadar untuk segera diselesaikan.

Dua bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah proses yang syar’i. Terlebih lagi selama dua bulan itu terjadi kekacauan niat disana-sini. Bersyukurlah perempuan itu ketika mulai menyadari kejanggalan dengan proses yang tengah ia jalani. Maka ketika ia semakin merasa tidak nyaman dengan perasaan yang salah itu, ia meminta bantuan seorang teman untuk menyelesaikan permasalahannya. Dan benarlah, proses itu memang sudah seharusnya untuk dihentikan saja. Seketika ucapan seorang sahabat Rasul seakan terngiang di telinganya, “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.”

Perempuan itu masih duduk di tempat yang sama sebakda shalat sunnah dhuha. Ia tertunduk lama mengingat kejadian demi kejadian yang ia alami selama dua bulan belakang. Betapa rapuh perasaannya hanya karena perkara jodoh. Bahkan karena kegagalan itu pula ia harus mengalami demam dengan panas tinggi hingga tiga hari lamanya. Ini memang pertama kali baginya. Dan ia belajar banyak hal dari sana. Meski selintas ia kecewa dengan banyak manusia, tapi ia telah memutuskan untuk tidak akan berlama-lama tenggelam dalam kekecewaan semata. Sesaat kemudian bibirnya melisankan tasbih, tahmid, tahlil, dan juga shalawat sebagai bentuk pengingat kepada Allah tempat ia mengembalikan berbagai urusan.

Sampai di titik ini, ia telah berhenti menangisi dirinya sendiri. Hatinya mungkin saja telah patah, tapi harapannya semakin bertumbuh kepada Allah. Karena sejauh ini pun yang ia inginkan untuk mengobati dahaga dalam hidupnya hanyalah air cinta yang berasal dari surga. Bukan yang lainnya.

Perempuan itu telah lama duduk di atas sajadahnya. Tatapannya mengarah sebentar ke jendela. Di sana ia menemukan matahari yang sedang menatapnya dengan senyuman cerah nan indah. Ia membalas senyuman itu bersamaan dengan air mata yang masih bersisa dikedua ujung matanya sembari bergumam, “Aku akan baik-baik saja.”. Lantas kemudian ia bangkit dari duduknya dan dengan segera ia melipat sajadahnya.

Sepagi itu, ada rasa takut yang kemudian menjulur di tubuh sang perempuan. Ia takut sekali ketika kesadarannya semakin tinggi dalam meyakini betapa sulitnya meraih cinta yang berbuah pahala. Terlebih lagi jika mengingat kegagalan yang ia alami sebelumnya. Namun terlepas dari itu semua, ada satu hal yang membuatnya jauh lebih takut dalam menjalani hidup di dunia: durhaka kepada Allah.

“Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku.”
(TQS. Az Zumar: 13)

Based on true story (11 November 2016 – 7 Januari 2017)

Bumi Terjebak Hujan

Beberapa pekan terakhir, hujan seringkali menyapa bumi tanpa mengenal waktu. Entah malam atau siang, ia datang sesukanya saja seperti tidak pernah tahu bagaimana cara berlaku. Hal ini membuat bumi mau-tidak-mau harus menikmati setiap rintik hujan yang datang membasahi dirinya. Wajar saja jika bumi seakan terpaksa disapa hujan. Sebab bumi belum terlalu mengenal siapa sebenarnya hujan.

Hingga suatu malam ketika bumi sedang menyusuri jejalanan lengang. Tanpa dinyana, lagi-lagi ia disapa hujan. Sungguh pada saat itu bumi tidak terlalu peduli dengan kehadiran hujan. Bumi lebih memilih berlari-lari kecil untuk sekedar menghindar dari setiap rerintikannya. Bumi juga berusaha mencari tepian hati untuk sekedar berteduh barang sebentar. Namun apa daya, ternyata malam itu bumi terjebak hujan juga. Bahkan bumi harus rela kakinya tenggelam ke dalam genangan kenangan.

Seketika bumi terdiam. Hujan masih saja mengguyurinya dengan berbagai harapan. Harapan yang pada mulanya telah tersimpan di kedalaman awan. Dan hujan sepertinya memang bertugas untuk menghantarkannya turun menuju bumi, agar ia menjelma menjadi ingatan. Bahkan gemuruh langit pun seakan tak ingin redam. Meneriakkan berbagai ucapan yang terasa sangat menyesakkan bagi bumi ketika menerpa dadanya.

Bumi ingin sekali menangis di sana, detik itu juga. Tapi air mata bumi serupa hujan, yang akan terus menjadi basah saat berjatuhan. Hingga akhirnya niat itu pun bumi urungkan. Bumi lebih memilih diam, tertegun di bawah rinai hujan.

Sudah terhitung lama bumi terjebak hujan. Sudah berulang kali pula ia larut dalam berbagai rintik harapan. Namun sayang, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh bumi untuk berlindung dari basahnya guyuran harapan yang berasal dari setiap tetes hujan. Hanya lisannya yang mampu ia andalkan untuk merapal doa dalam-dalam ditengah keheningan malam.

Sejak saat itu, ketika bumi seringkali disapa hujan dengan berbagai harapan, ia menjadi tersesat sendiri di dalam rinai hujan. Lalu basah yang datang berulang kali tak pernah bisa bumi tahan.

Dikala hujan membawa harapan yang tidak pernah berjeda, dikala resah semakin membasah, akan selalu ada yang mencari reda tanpa henti. Sampai nanti, sampai mati. Itulah bumi.

“ … Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.”

(QS. Yusuf: 87)

Cerita sebelumnya: Bumi Bertemu Rembulan

Bumi Bertemu Rembulan

Bagi bumi, penghujung tahun ini mungkin akan berbeda dengan tahun-tahun kemarin. Alih-alih tersenyum karena berbagai hal yang mampu ia lewati dengan paripurna, termasuk seluruh tugas-tugasnya untuk senantiasa membumi; namun ternyata bumi lebih memilih diliputi rasa khawatir akan dirinya sendiri. Dipenghujung tahun ini saja.

Bumi merasa bahwa sejauh ini ia telah berlari sekuat tenaga. Melakukan ribuan kali rotasi, ratusan kali revolusi, dan menghabiskan seluruh energi yang ia punya untuk mencapai puncak semesta. Sayang sekali jika kenyataannya menceritakan hal yang sama sekali berbeda. Bahwa sebenarnya bumi telah keliru dalam memandang perjalanan hidupnya sendiri. Dipenghujung tahun ini, bumi baru saja menyadari bahwa ia tidak berpindah kemana-mana. Sebab, beberapa waktu yang telah berlalu ternyata hanya ia jalani dengan gerak semu di dalam gelap gulita.

Tidak ada cahaya kehidupan yang benar-benar mampu menyinari perjalanan bumi selama ini. Sebaliknya, ada begitu banyak cobaan hidup dan masalah yang mengiringi setiap langkah kakinya. Pada saat itu bumi tidak bisa memilih, karena nyatanya bumi memang sedang berada di dalam kegelapan. Entah sudah berapa kali pula di dalam kegelapan itu, bumi harus diam-diam berselisih paham dengan dirinya sendiri untuk mengalahkan berbagai rasa sakit, luka, dan amarah yang datang silih berganti untuk menguji hidupnya.

Bumi selalu meraba-raba di dalam kegelapan. Ia berusaha setengah mati untuk menemukan jalan kebenaran. Sungguh. Bumi sangat takut sekali tersesat dalam perjalanan hidup ini, ia khawatir terjatuh, dan ia tidak sanggup jika harus tersandung kesalahan meski hanya untuk sekali.

Namun, bukan pelajaran namanya jika bumi hanya mengenal separuh dari apa yang menjadikan hidupnya utuh. Karena dalam perjalanan itu, ternyata Sang pencipta mempertemukan bumi dengan rembulan. Rembulan yang pada akhirnya menerangi bumi dengan cahaya kebaikan. Rembulan pula yang memilih sabar dalam menuntun bumi untuk berjalan menuju kebenaran.

Sinar rembulan memanglah tidak secerah sinar mentari kepada bumi. Tapi percayalah, bahwa sesungguhnya hanya cahaya rembulan saja yang mampu menatap bumi dengan kesejukan. Kesejukan yang menghantarkan bumi untuk senatiasa berdampingan dengan rembulan, lantas kemudian saling berpelukan dalam kesetiaan.

Tidak ada yang mampu mengalahkan mesranya bumi dengan rembulan. Bahkan jika bumi harus berpisah sejenak dengan rembulan tersebab gelapnya awan, bumi tidak akan diliputi kecemasan. Karena bumi paham, Sang Pencipta mempertemukan bumi dengan rembulan bukan hanya sekedar untuk berdampingan, namun juga untuk bertahan dalam berbagai ujian yang menghalangi mereka dari indahnya memandang kebahagiaan.

Dipenghujung tahun ini, bumi kembali merenungi dirinya sendiri. Ia mengira perjalanan hidupnya akan selalu sendirian di dalam kegelapan. Tapi ternyata tidak. Bumi akhirnya bertemu rembulan untuk sebuah alasan; agar ia mampu melihat perjalanan hidup yang jauh lebih terang ke depan.

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”

(QS. Yaasiin: 36)

Cerita sebelumnya: Mentari kepada Bumi

Manusia selalu saja bebal perihal pilihan. Seringkali pilihannya harus sesuai dengan ukuran standar yang dibuat oleh dirinya sendiri. Padahal setiap manusia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya tersembunyi di dalam hati, apa yang akan terjadi kedepan nanti, dan apa pula itu yang disebut cinta sejati? Aku pun sama. Tidak benar-benar tahu tentang kesemua itu.

Namun perihal pilihanku kemarin, bagaimana jika pada akhirnya jatuh padamu? Kau mau bersepakat untuk menyamakan persepsi tentang pilihan kita terlebih dahulu?

Aku Suka Menulis

Aku suka menulis. Bagiku, mengungkapkan segala hal yang sedang aku pikirkan dalam sebentuk tulisan, semacam ada romantisme tersendiri yang muncul setelahnya. Menenangkan perasaan. Melegakan.

Aku suka menulis. Karena menulis menjadi sarana untuk melabuhkan berbagai macam kata-kata yang seringkali sulit aku ucapkan dengan lisan. Ketahuilah, bahwa aku tidak begitu pandai perihal berbicara. Hanya tulisan yang mampu aku rangkai dengan rapi sebagai perwakilan suara hati dan suara yang sering berkeliaran di pikiran ini.

Aku suka menulis. Memiliki tipikal otak kiri yang cenderung short therm memory menjadi masalah tersendiri bagi beberapa orang sepertiku. Tersebab hal itulah, agaknya dengan menulis mampu membantuku untuk melawan lupa. Mengurai segala hal penting menjadi paragraf-paragraf sederhana merupakan bagian dari perjuanganku untuk menikmatinya kembali. Suatu hari nanti.

Aku suka menulis. Kekadang, ada sisi lain kehidupan ini yang tidak diperhatikan banyak orang. Melalui tulisan aku berusaha untuk melihatnya dengan jeli. Disamping itu, ada pula beberapa anganku yang belum selesai kugapai. Dan entah kenapa tulisan mampu mendramatisirnya melebihi perasaanku sendiri. Lantas ketika keduanya berpadu, sisi lain kehidupan dan angan-angan tadi pada akhirnya bisa membentuk harmoni yang justru mewarnai hari-hari ini.

Aku suka menulis. Karena dari tulisan aku belajar untuk tidak pernah berhenti mencari dan menemukan berbagai makna dalam bermacam kisah. Bukankah seseorang pernah berkata kalau menulis adalah bekerja untuk keabadian? Maka biarkan saja aku belajar setiap waktu, lantas bekerja dalam tulisan. Agar tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi jika suatu hari nanti aku pergi meninggalkan dunia ini. Sebab, izinkanlah tulisan-tulisanku yang menjadi abadi.

Aku suka menulis. Hanya lewat tulisan, aku mampu menjelajah dunia. Karena sungguh, kaki ini, waktu yang dimiliki, begitupun dengan materi; akan sangat terbatas sekali keberadaannya untuk membuat gerak langkahku bebas berkeliling dunia. Namun tulisan dengan ajaib bisa melakukannya. Entah duniaku, duniamu, atau dunia yang kita ciptakan sendiri; tulisan bisa menjelajahi kemanapun dan kapanpun ia suka. Bahkan hingga ke ujung cakrawala.

Dan aku tahu, kelak aku akan banyak menulis tentangmu dalam lembaran baru hidupku. Iya. Aku suka menulis. Kau mau membacanya?

“Jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka MENULISLAH.”

(Imam Al Ghazali)

Jika Istrimu Seorang yang Berjiwa Laki-laki

Banyak orang yang beranggapan bahwa seorang istri merupakan teman masa depan. Hingga sesekali atau bahkan seringkali, ada orang-orang yang tidak peduli dengan masa lalu istrinya. Bisa jadi, penolakan tersebut dilakukan oleh beberapa orang karena mereka memang tidak bisa menerima masa lalu tersebut. Ia merasa cukup dengan kebaikan yang dimiliki istrinya sekarang, dan ia percaya pula mampu membangun kebaikan lainnya untuk di kehidupan mendatang. Itu saja. Padahal, seorang istri belum tentu telah melupakan masa lalunya secara keseluruhan.

Maka, bagaimana jika ternyata kau menikahi seorang istri yang masa lalunya agak unik? Katakanlah istrimu dulu pernah nyaman menjadi seseorang yang berjiwa laki-laki, bersikap macho, dan bergaya maskulin. Kau harus mengingat bahwa ketika kau memutuskan untuk menikahi seseorang, artinya kau sedang menikahi segala yang ia punya. Keluarganya, kebiasaanya, kesukaannya, keburukannya, begitupun dengan masa lalunya.

Jika ternyata nanti kau menikahi seorang perempuan yang dulunya berjiwa laki-laki, maka janganlah memarahi ketidakmampuannya dalam hal memasak. Karena hal itu memang tidak pernah menjadi kebiasaan dimasa lalunya. Atau bahkan istrimu memang sangat anti dengan kebiasaan yang dilakukan oleh wanita pada umumnya, termasuk dalam hal  memasak. Jika pun seperti itu, kau hanya perlu memberikan dorongan semangat agar istrimu terus-menerus belajar memasak. Tidak mengapa jika sesekali kau berbohong untuk memuji masakannya yang mungkin sama sekali tidak bisa diterima oleh lidahmu. Kau tidak perlu merasa bersalah. Tetap saja seperti itu. Hingga nanti tiba pada masa dimana istrimu benar-benar berhasil memberikan masakan terbaiknya hanya untukmu dan anak-anakmu. Kau memang harus bersabar, karena sesungguhnya ia sedang menjadikanmu teman sekaligus saksi disetiap detik perubahan ia menjadi wanita seutuhnya.

Jika kau menikahi seorang perempuan yang dulunya berjiwa laki-laki, kau tidak akan menemukan kebiasaan istrimu yang senang berlama-lama di depan cermin, mengoleskan make-up dengan ketebalan bersenti-senti, atau memutar jilbab hingga berpuluh kali dikepalanya hanya untuk mengikuti tren hijab terbaru. Istrimu sama sekali tidak menyukai kebiasaan seperti itu. Selain karena membuang-buang waktu, istrimu tidak paham benar dengan cara berdandan yang sering dilakukan oleh kebanyakan wanita. Ia lebih suka dengan kesedehanaan sebagaimana Tuhannya mengajarkan cara wanita berlaku dalam kehidupan.

Jika kau menikahi seorang perempuan yang dulunya berjiwa laki-laki, jangan mengeluhkan taman rumah yang tidak terurus oleh istrimu. Karena sesungguhnya ia tidak benar-benar menyukai bunga dan tanaman sejenisnya. Baginya, bunga atau tanaman hias tidak memiliki arti khusus dalam keberlangsungan rumah tangga. Lantas kau tidak perlu repot-repot pula menyewa tukang kebun karena keterbatasannya tersebut. Istrimu hanya meminta sedikit waktumu untuk menata taman itu bersama-sama, agar ia tahu taman seperti apa yang kau inginkan. Mungkin, dikala senggang atau diakhir pekan menjadi waktu yang leluasa untuk kau habiskan dengan menata taman bersamanya.

Jika kau menikahi seorang perempuan yang dulunya berjiwa laki-laki, jangan heran dengan prinsip istrimu yang tidak suka dibantu dalam hal-hal teknis yang ia anggap sepele. Membeli barang-barang tertentu, mengangkat ini-itu, membenahi kerusakan disini dan disitu. Berikan saja ruang agar istrimu dapat mengerjakannya sendiri. Jika kau memaksa membantunya, istrimu bisa saja menganggap dirinya diremehkan. Ingatlah bahwa ia dulu pernah memiliki jiwa laki-laki, dengan prinsip hidup yang mungkin hampir sama denganmu: menjadi seseorang yang tangguh dan tidak menyukai ketergantungan dengan orang lain. Istrimu hanya ingin kau mengerti, betapa nyamannya ia dengan kemandirian yang ia miliki.

Seperti itu pula jika suatu waktu istrimu berkeras tidak ingin diantar berpergian untuk urusan pribadinya. Ia lebih memilih pergi, dan membawa kendaraan sendiri. Berikanlah kepercayaan penuh darimu agar ia diizinkan untuk melakukan hal tersebut.

Sebagaimanapun kau ingin memperlakukannya sebagai wanita normal, istrimu tetaplah wanita yang memiliki masa lalu sendiri. Maka kau tak perlu memaksa ia berubah menjadi definisi wanita yang ada dipikiranmu, dengan sifat dan kebiasaan seperti wanita pada umumnya.

Mungkin kau akan bersedih karena istrimu terlihat kaku dan sesekali tidak romantis. Prinsip hidup, kebiasaan, dan hal-hal yang ia yakini seakan membuatmu tak terlalu berarti dalam kesehariannya. Padahal sesungguhnya tidaklah begitu. Istrimu menyadari betul betapa ia sangat membutuhkan dukungan, restu, dan nasehat-nasehat darimu. Ia tetap menerima teguran yang datang dari ucapanmu jika ia melakukan kesalahan dan melanggar aturan. Terlebih aturan dari Tuhannya, ia akan sangat khawatir sekali jika lalai dalam beragama.

Percayalah bahwa istrimu bukan menentang fitrahnya sebagai wanita. Bukan. Ia akan tetap menjadikanmu sebagai sandarannya, melibatkanmu dalam urusan rumah tangga, melabuhkanmu ke dalam cintanya, dan ia juga akan berusaha keras untuk menjadi ibu terbaik bagi anak-anaknya.

Walau istrimu berjiwa laki-laki, ia tidak bermaksud menyamai posisimu atau mendominasi didalam rumah tangga. Tidak sama sekali. Ia memiliki Tuhan, dan ia menyadari dengan sepenuhnya bagaimana kemudian Tuhannya telah jauh-jauh hari mengatur kehidupan seorang wanita ketika berumah tangga. Dan istrimu telah lebih dahulu menyetujui untuk menerima aturan Tuhannya ketimbang aturan yang ia buat sendiri. Hanya saja, ada beberapa hal yang mungkin harus kau pahami tentang istrimu sehingga nantinya kalian tidak perlu menghabiskan waktu untuk bertengkar karena beberapa hal tersebut.

Istrimu hanya ingin kau bisa mengingat bagaimana masa lalunya, agar kau mampu berpikir adil untuk memperlakukannya sebagai seorang istri yang sangat istimewa. Dikehidupanmu dan kehidupan anak-anakmu kelak.

 

5 Februari 2014

Septi Rezeki Mulyani Siregar

Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Matematika

Universitas Sriwijaya

 

p.s.: Tulisan ini pernah diikutkan dalam project nulis bareng bertemakan “Jika Istrimu Seorang …”, namun gagal masuk nominasi karena tulisan yang dikirim tidak disertai identitas yang mendukung tulisan. Haha. Pembuatan tulisan ini juga dulunya dilakukan sebagai bagian dari mencari hiburan karena sedang jenuh-jenuhnya dengan pengerjaan skripsi yang berulang kali dibilang salah. Hiks.

Jika pada akhirnya hari ini, tulisan ini, diposting di blog setelah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk tidak pernah membahas perihal seperti ini di setiap tulisan, tentu karena ada alasan tertentu yang mendasarinya. Eahhh.. 😀