Kata mereka kau lelaki paling biasa di bumi, tapi mengapa pagi selalu terbit dari matamu?

Kata mereka kau lelaki paling biasa di bumi, tapi mengapa ketenangan selalu berumah di wajahmu?

Kata mereka kau lelaki paling biasa di bumi, tapi mengapa hidup paling surga adalah saat bersamamu?

(Helvy Tiana Rosa)

Advertisements

Laki-laki dengan Sejuta Rahasia

Berulangkali aku telah meyakinkan diri sendiri bahwa laki-laki yang telah aku pilih itu adalah laki-laki yang menyimpan sejuta rahasia. Dalam pandanganku, dia bukanlah seperti tipe laki-laki yang mudah mengumbar isi hatinya tanpa pemikiran yang panjang.

Seperti yang sering terlihat, hari ini mengeluh adalah pekerjaan yang paling mudah dilakukan oleh setiap orang. Tapi laki-laki itu lebih memilih untuk menjadikannya sebagai pekerjaan yang berat. Karenanya, aku kehabisan cara untuk menemukan keluhan dilisannya. Membahasakan rasa resah dan gelisah pun lebih sering dia tenggelamkan dalam diam.

Laki-laki dengan sejuta rahasia itu telah berhasil membuat aku penasaran bukan main dengan apa saja yang telah dia simpan sendirian. Selama ini. 

Dan…

Aku tahu dia adalah laki-laki dengan sejuta rahasia, hingga aku pun menjadi yakin untuk mengutarakan segala rasa. Segala rahasia. Karena aku percaya rahasiaku akan tetap aman dan senantiasa terjaga bila kutitip dengannya.

Tetaplah menjadi laki-laki dengan sejuta rahasia. Untukku dan untuk semua orang disekitar kita. Selamanya…

Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara.

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana.

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu.

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku.

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku.

Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.

(Sapardi Djoko Damono, 1989)

Tunggulah

​Bila yang akan kamu tunggu itu sesuatu yang berharga, maka tunggulah. Karena mungkin tidak akan ada lagi yang demikian. Karena menunggu itu pun tidak untuk selamanya, kan? Tidak akan menghabiskan seluruh hidupmu kan?

Bila yang akan kamu tunggu itu adalah sesuatu yang benar-benar membuat hidupmu akan menjadi lebih baik, maka tunggulah. Meskipun orang lain kehabisan sabar terhadap kesabaranmu, biarkan saja. Karena kamu lebih tahu tentang dirimu sendiri dan sesuatu yang sedang kamu tunggu itu.

Kamu mungkin bisa mendapatkan pengganti yang lebih cepat, tapi menunggu akan membuat sesuatu menjadi semakin berharga.

Bila yang akan kamu tunggu adalah sesuatu yang pasti datangnya, maka jangan ragu untuk menunggu. Karena jarak dalam satuan waktu akan mengajarkan kita bagaimana menahan hawa nafsu, bagaimana kita menahan diri, dan bagaimana kita mengisi waktu dengan hal-hal yang baik selama menunggu.

Dalam menunggu, kamu harus membayar dengan waktumu untuk sesuatu yang paling kamu inginkan. Sebuah harga mahal dari menunggu, karena waktu kamu tidak akan pernah bisa diganti bahkan dikembalikan. Dan untuk sesuatu yang berharga, aku percaya kamu siap membayar semua itu.

Dan bila kamu memintaku untuk menunggu, aku akan melakukannya. Karena aku tahu kamu sangat berharga dan aku juga tahu bahwa menunggu ini tidak selamanya, tidak akan menghabiskan seumur hidup.

Tunggulah sebentar. Sabar atau kamu akan kehilangan.

(Mas Gun)

Terima Kasih

Setelah kemarin, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih saja. Ya. Terima kasih karena telah membuatku merasa bernilai dan terhormat atas keputusan bijakmu.

Mungkin, sebelumnya aku tidak pernah merasa seberharga ini dengan diriku sendiri. Tentu saja hal ini bukan tentang apakah aku mampu bersyukur atau tidak. Bukan sama sekali. Sebab, hanya karena aku paham betul bagaimana khilaf dan dosa yang masih sering sekali menghampiri hati dan juga diri ini; aku merasa tidak layak mendapat kesantunan tutur-pujimu.

Setelah kemarin, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih saja. Atas pelajaran dan hikmah yang engkau tunjukkan melalui sikap takzimmu terhadap keberadaan orangtua kita masing-masing.

Mungkin, aku perlu meneladani sikapmu lebih banyak lagi. Agar segera habis seluruh keluh orangtua yang menangisi ulah anak-anak mereka, yang bisa jadi salah satu diantara anak-anak itu adalah aku sendiri. 😭

Setelah kemarin, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih saja. Terutama kepada Allah yang sama-sama kita yakini selalu menyaksikan setiap detik yang terjadi diantara kita. Karena sepertinya Allah memang sengaja mempertemukan dua insan seperti kita, namun tidak menyatukannya dengan segera. Bukan karena Dia tidak sayang, tapi lebih dari itu. Aku percaya dan tidak akan pernah mengingkari, bahwa Allah punya rencana terbaik untuk kehidupan kita nantinya.

Jika kemarin kau tidak bisa memejamkan mata karena semua hal yang telah terjadi ini, maka begitu juga aku. Tapi bagiku, tidak masalah jika setelah semua yang terjadi kemarin, pada akhirnya akan begini saja. Karena tidak semua perkara harus diselesaikan dengan segera. Adakalanya beberapa hal di dunia ini hanya butuh pembiaran, seperti bocah-bocah yang menangis entah karena apa. Lama-kelamaan tangisnya akan redam juga, kan? Maka biarkanlah perkara ini berjalan dan berlalu begitu saja. Aku hanya bisa berharap, semoga hati kita sama-sama lapang untuk menerima ketetapan Allah kemarin, hari ini, juga seterusnya.

Dan kepadamu, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Itu saja.

Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta kita untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilahkan. Yang ini pengorbanan.

(Salim A. Fillah)

Tanah Rejang

Tanah Rejang.

Telah begitu banyak isak yang tumpah di atas pangkuanmu. Telah berulangkali pula segala bentuk harap tenggelam di kedalamanmu.

Semua haru yang senantiasa hambur menjadi satu, memang tidak semestinya membuatku rapuh. Sebab, kau bisa menyaksikannya sendiri bukan? Saat setiap kali dahi luruh ke atas permukaanmu, bersama jutaan air mata yang seperti tanpa henti menemani perjalanan hari. Hingga setelahnya, dalih mendapatkan energi baru mampu membuatku kembali berdiri.
Di sini.

Tanah Rejang.

Biarlah hingga kesekian kali pun, kujatuhkan pada setiap jengkalmu saja. Segala bentuk cinta juga damba yang membuatku tetap menjadi hamba Allah yang seutuhnya.