Laki-laki dengan Sejuta Rahasia

Berulangkali aku telah meyakinkan diri sendiri bahwa laki-laki yang telah aku pilih itu adalah laki-laki yang menyimpan sejuta rahasia. Dalam pandanganku, dia bukanlah seperti tipe laki-laki yang mudah mengumbar isi hatinya tanpa pemikiran yang panjang.

Seperti yang sering terlihat, hari ini mengeluh adalah pekerjaan yang paling mudah dilakukan oleh setiap orang. Tapi laki-laki itu lebih memilih untuk menjadikannya sebagai pekerjaan yang berat. Karenanya, aku kehabisan cara untuk menemukan keluhan dilisannya. Membahasakan rasa resah dan gelisah pun lebih sering dia tenggelamkan dalam diam.

Laki-laki dengan sejuta rahasia itu telah berhasil membuat aku penasaran bukan main dengan apa saja yang telah dia simpan sendirian. Selama ini. 

Dan…

Aku tahu dia adalah laki-laki dengan sejuta rahasia, hingga aku pun menjadi yakin untuk mengutarakan segala rasa. Segala rahasia. Karena aku percaya rahasiaku akan tetap aman dan senantiasa terjaga bila kutitip dengannya.

Tetaplah menjadi laki-laki dengan sejuta rahasia. Untukku dan untuk semua orang disekitar kita. Selamanya…

Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara.

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana.

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu.

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku.

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku.

Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.

(Sapardi Djoko Damono, 1989)

Tunggulah

​Bila yang akan kamu tunggu itu sesuatu yang berharga, maka tunggulah. Karena mungkin tidak akan ada lagi yang demikian. Karena menunggu itu pun tidak untuk selamanya, kan? Tidak akan menghabiskan seluruh hidupmu kan?

Bila yang akan kamu tunggu itu adalah sesuatu yang benar-benar membuat hidupmu akan menjadi lebih baik, maka tunggulah. Meskipun orang lain kehabisan sabar terhadap kesabaranmu, biarkan saja. Karena kamu lebih tahu tentang dirimu sendiri dan sesuatu yang sedang kamu tunggu itu.

Kamu mungkin bisa mendapatkan pengganti yang lebih cepat, tapi menunggu akan membuat sesuatu menjadi semakin berharga.

Bila yang akan kamu tunggu adalah sesuatu yang pasti datangnya, maka jangan ragu untuk menunggu. Karena jarak dalam satuan waktu akan mengajarkan kita bagaimana menahan hawa nafsu, bagaimana kita menahan diri, dan bagaimana kita mengisi waktu dengan hal-hal yang baik selama menunggu.

Dalam menunggu, kamu harus membayar dengan waktumu untuk sesuatu yang paling kamu inginkan. Sebuah harga mahal dari menunggu, karena waktu kamu tidak akan pernah bisa diganti bahkan dikembalikan. Dan untuk sesuatu yang berharga, aku percaya kamu siap membayar semua itu.

Dan bila kamu memintaku untuk menunggu, aku akan melakukannya. Karena aku tahu kamu sangat berharga dan aku juga tahu bahwa menunggu ini tidak selamanya, tidak akan menghabiskan seumur hidup.

Tunggulah sebentar. Sabar atau kamu akan kehilangan.

(Mas Gun)

Terima Kasih

Setelah kemarin, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih saja. Ya. Terima kasih karena telah membuatku merasa bernilai dan terhormat atas keputusan bijakmu.

Mungkin, sebelumnya aku tidak pernah merasa seberharga ini dengan diriku sendiri. Tentu saja hal ini bukan tentang apakah aku mampu bersyukur atau tidak. Bukan sama sekali. Sebab, hanya karena aku paham betul bagaimana khilaf dan dosa yang masih sering sekali menghampiri hati dan juga diri ini; aku merasa tidak layak mendapat kesantunan tutur-pujimu.

Setelah kemarin, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih saja. Atas pelajaran dan hikmah yang engkau tunjukkan melalui sikap takzimmu terhadap keberadaan orangtua kita masing-masing.

Mungkin, aku perlu meneladani sikapmu lebih banyak lagi. Agar segera habis seluruh keluh orangtua yang menangisi ulah anak-anak mereka, yang bisa jadi salah satu diantara anak-anak itu adalah aku sendiri. 😭

Setelah kemarin, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih saja. Terutama kepada Allah yang sama-sama kita yakini selalu menyaksikan setiap detik yang terjadi diantara kita. Karena sepertinya Allah memang sengaja mempertemukan dua insan seperti kita, namun tidak menyatukannya dengan segera. Bukan karena Dia tidak sayang, tapi lebih dari itu. Aku percaya dan tidak akan pernah mengingkari, bahwa Allah punya rencana terbaik untuk kehidupan kita nantinya.

Jika kemarin kau tidak bisa memejamkan mata karena semua hal yang telah terjadi ini, maka begitu juga aku. Tapi bagiku, tidak masalah jika setelah semua yang terjadi kemarin, pada akhirnya akan begini saja. Karena tidak semua perkara harus diselesaikan dengan segera. Adakalanya beberapa hal di dunia ini hanya butuh pembiaran, seperti bocah-bocah yang menangis entah karena apa. Lama-kelamaan tangisnya akan redam juga, kan? Maka biarkanlah perkara ini berjalan dan berlalu begitu saja. Aku hanya bisa berharap, semoga hati kita sama-sama lapang untuk menerima ketetapan Allah kemarin, hari ini, juga seterusnya.

Dan kepadamu, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Itu saja.

Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta kita untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilahkan. Yang ini pengorbanan.

(Salim A. Fillah)

Tanah Rejang

Tanah Rejang.

Telah begitu banyak isak yang tumpah di atas pangkuanmu. Telah berulangkali pula segala bentuk harap tenggelam di kedalamanmu.

Semua haru yang senantiasa hambur menjadi satu, memang tidak semestinya membuatku rapuh. Sebab, kau bisa menyaksikannya sendiri bukan? Saat setiap kali dahi luruh ke atas permukaanmu, bersama jutaan air mata yang seperti tanpa henti menemani perjalanan hari. Hingga setelahnya, dalih mendapatkan energi baru mampu membuatku kembali berdiri.
Di sini.

Tanah Rejang.

Biarlah hingga kesekian kali pun, kujatuhkan pada setiap jengkalmu saja. Segala bentuk cinta juga damba yang membuatku tetap menjadi hamba Allah yang seutuhnya.

Mihrab Cinta

Aku bukan tak sabar, hanya tak ingin menanti.
Karena berani memutuskan adalah juga kesabaran.
Karena terkadang penantian, membuka pintu-pintu syaithan.
(Salim A. Fillah)

Matahari baru saja beranjak naik untuk menyinari bumi. Cahayanya masih malu-malu menunjukkan betapa rupa yang ia punya sangat menawan. Samar-samar cahaya matahari mulai menerangi sebuah ruangan berukuran 2×3 meter dengan kehangatannya yang masih bercampur dengan kesejukan udara sisa malam tadi. Di ruangan itu, seorang perempuan sedang berusaha khusyu’ menyambut waktu pagi dengan menunaikan beberapa rakaat shalat sunnah dhuha. Ia baru saja ingin menuntaskan rakaat pertamanya. Tapi seketika bibirnya bergetar. Ada isak tangis yang perlahan terdengar ketika lisannya mulai merapal Al Quran surat Asy Syams memasuki ayat kedelapan.

Fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha. Qad aflaha man zakkaaha. Wa qad khaaba man dassaaha…
(Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya…)

Sampai pada ayat itu, tangisnya semakin deras. Tubuhnya berguncang hebat. Ada sepotong hati yang bertanya-tanya, dirinya termasuk ke dalam golongan yang mana? Dan dengan terpaksa, ia berhenti sejenak menunaikan bacaan surat pendeknya. Hatinya beristighfar berulang kali. Setelah ia menenangkan dirinya sendiri, ia lanjutkan membaca surat asy syams hingga selesai.

Matahari sudah semakin meninggi ketika perempuan itu telah selesai dengan beberapa rakaat shalat sunnah dhuhanya sekaligus dengan dzikir dan doa-doa yang ia ucapkan dengan panjang-lebar. Namun angin masih saja berhembus sejuk menemani paginya kala itu. Mungkin Allah sengaja menghadirkan kesejukan padanya seakan Allah ingin mengatakan bahwa hatinya tidak boleh berlama-lama terbakar panasnya nafsu dunia.

Di atas sajadah yang telah menemaninya beribadah selama ini, perempuan itu terdiam. Shalat sunnahnya memang sudah selesai, namun ia masih belum beranjak dari atas sajadah. Sesekali air matanya jatuh perlahan. Ingatannya kembali menerawang pada kejadian yang ia alami selama dua bulan terakhir.

Dua bulan yang lalu, sebuah tawaran datang kepadanya. Tawaran untuk berproses dengan seorang laki-laki yang belum ia kenal betul dalam keseharian. Ia hanya mengenal nama. Tidak lebih dari itu. Perempuan itu harus mengakui, bahwa desakan menikah dari sana-sini sudah lebih dari sering menghampiri hidupnya. Namun ia juga memahami bahwa memutuskan untuk menikah bukan hanya sekedar perkara desakan saja. Maka ia beristikharah, meminta petunjuk dari Allah agar diberi keteguhan dalam melangkah ke arah kebaikan.

Semenjak itu pula hatinya mulai gelisah. Seumur hidup ia selalu bersikeras untuk menutup hatinya kepada lawan jenis. Ia tidak pernah memberikan kesempatan bagi siapapun untuk memasukinya. Maka ketika tawaran itu datang, mau-tidak-mau ia harus membuka pintu hatinya secara perlahan. Ia benar-benar gelisah dengan berbagai resiko yang harus dihadapi saat keterbukaan itu ia lakukan.

Dan ternyata ia harus lebih gelisah lagi ketika ada berbagai alasan yang menyebabkan ia tidak sengaja berinteraksi dengan laki-laki yang akan dijodohkan kepadanya. Sesekali syaraf dan ototnya terasa dingin semua saat pertemuan dan perbincangan mereka berlangsung sebentar. Lebih sering lagi, ia memilih untuk menghindar dengan cara yang tidak lucu sama sekali. Wajar saja hal ini terjadi. Sebelumnya memang perempuan itu tidak pernah menitipkan hatinya kepada lawan jenis hingga sedemikian dalam. Sungguh, ini baru terjadi sekali seumur hidupnya. Dan ia benar-benar gugup dengan perasaan merah jambu itu. Iya. Perempuan itu jatuh cinta. Hatinya sedang berbunga-bunga.

Namun sayang, kekeliruan pertama yang terjadi pada perempuan itu adalah saat memutuskan untuk jatuh cinta, bukan malah membangun cinta. Maka, ia pun harus menerima pahitnya penderitaan. Ia menderita ketika shalatnya tidak bisa khusyu’, ia menderita saat hapalan Al Qurannya mulai kacau dan sulit sekali bertambah tersebab pertemuan-pertemuan yang telah lalu itu kembali terulang di dalam pikirannya secara terus-menerus.

Semakin lama tenggelam dalam suasana yang seperti itu, ia mulai tidak nyaman. Ada kelezatan iman yang perlahan mulai pudar dalam kehidupannya sehari-hari. Ia mengakui bahwa intensitasnya dengan rutinitas ibadah memang bertambah. Ia sanggup bangun diwaktu sepertiga malam terakhir yang lebih diutamakan oleh Allah, ia semakin rajin bersedekah kepada fakir-miskin yang berdiam di lampu-lampu merah, ia pun menjadi rutin menjalankan puasa sunnah; hanya agar urusan perjodohannya dipermudah oleh Allah. Lucu, bukan? Ia tahu memang begitulah sunnatullahnya. Namun ditengah rutinitas ibadah itu ia justru kehilangan sesuatu, yang belakangan membuat ia sadar untuk segera diselesaikan.

Dua bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah proses yang syar’i. Terlebih lagi selama dua bulan itu terjadi kekacauan niat disana-sini. Bersyukurlah perempuan itu ketika mulai menyadari kejanggalan dengan proses yang tengah ia jalani. Maka ketika ia semakin merasa tidak nyaman dengan perasaan yang salah itu, ia meminta bantuan seorang teman untuk menyelesaikan permasalahannya. Dan benarlah, proses itu memang sudah seharusnya untuk dihentikan saja. Seketika ucapan seorang sahabat Rasul seakan terngiang di telinganya, “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.”

Perempuan itu masih duduk di tempat yang sama sebakda shalat sunnah dhuha. Ia tertunduk lama mengingat kejadian demi kejadian yang ia alami selama dua bulan belakang. Betapa rapuh perasaannya hanya karena perkara jodoh. Bahkan karena kegagalan itu pula ia harus mengalami demam dengan panas tinggi hingga tiga hari lamanya. Ini memang pertama kali baginya. Dan ia belajar banyak hal dari sana. Meski selintas ia kecewa dengan banyak manusia, tapi ia telah memutuskan untuk tidak akan berlama-lama tenggelam dalam kekecewaan semata. Sesaat kemudian bibirnya melisankan tasbih, tahmid, tahlil, dan juga shalawat sebagai bentuk pengingat kepada Allah tempat ia mengembalikan berbagai urusan.

Sampai di titik ini, ia telah berhenti menangisi dirinya sendiri. Hatinya mungkin saja telah patah, tapi harapannya semakin bertumbuh kepada Allah. Karena sejauh ini pun yang ia inginkan untuk mengobati dahaga dalam hidupnya hanyalah air cinta yang berasal dari surga. Bukan yang lainnya.

Perempuan itu telah lama duduk di atas sajadahnya. Tatapannya mengarah sebentar ke jendela. Di sana ia menemukan matahari yang sedang menatapnya dengan senyuman cerah nan indah. Ia membalas senyuman itu bersamaan dengan air mata yang masih bersisa dikedua ujung matanya sembari bergumam, “Aku akan baik-baik saja.”. Lantas kemudian ia bangkit dari duduknya dan dengan segera ia melipat sajadahnya.

Sepagi itu, ada rasa takut yang kemudian menjulur di tubuh sang perempuan. Ia takut sekali ketika kesadarannya semakin tinggi dalam meyakini betapa sulitnya meraih cinta yang berbuah pahala. Terlebih lagi jika mengingat kegagalan yang ia alami sebelumnya. Namun terlepas dari itu semua, ada satu hal yang membuatnya jauh lebih takut dalam menjalani hidup di dunia: durhaka kepada Allah.

“Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku.”
(TQS. Az Zumar: 13)

Based on true story (11 November 2016 – 7 Januari 2017)